KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

  PGP-1-KAB CILACAP-LENI RAHMAENI-2.2-koneksi antar materi modul 2.2


KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2

PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

 

Perjalanan calon guru penggerak kali ini yaitu membahas tentang modul 2.2, sebuah modul yang bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang memandang murid sebagai pribadi yang utuh, baik mencangkup aspek kognitif maupun aspek perkembangan social dan emosional. Pada saat ini, belajaran di sekolah hanya memandang hasil kerja murid dari aspek intelegensi atau kemampuan kognitif saja, tanpa menilai perkembagan social emosional. Artinya, sekolah itu hanya melihat kognitif siswa dari nilai hasil ulangan berupa angka saja, dari angka-angka itu kaum guru dapat menentukan kantitatif dari hasil mereka mengajar. Karena mengejar target nilai kuantitatif, akhirnya kualitas murid menjadi terabaikan, padahal kualitas murid itu adalah penentu keberhasilan pembelajaran baik siswa maupun gurunya. Hasil dari pendidikan yang mengedepankan intelegensi dan kognitif adalah terjadinya fenomena kriminalitas yang tinggi, bulliying, masalah etika, moral, sopan santun dan ketidak jujuran pelajar, kurangnya rasa hormat kepada guru,  tingginya kasus kekerasan, semakin lunturnya sikap toleransi, tingginya kasus, korupsi, kolusi dan nepotisme. Kejadian itu, tidak hanya dikota besar, dikampungpun masalah ini sudah mulai nampak. Semua itu berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin menggerus nilai-nilai bangsa Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut, melalui Program Guru Penggerak inilah, sudah saatnya kita kaum guru, untuk dapat mengembalikan nilai-nilai bangsa Indonesia kepada murid kita, agar murid kita menjadi mandiri, dapat bertahan dalam masalah, sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka berempati dan menjadi pribadi lebih baik di lingkungan social mereka. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”. Jadi, sudah seyogyanya kita kaum guru untuk dapat merawat dan menuntun murid ke dalam lingkungan social masyarakat, sehingga mereka dapat mengendalikan emosi mereka menjadi emosi yang positif.

Bagaimana cara agar jiwa social dan emosi positif murid dapat muncul? Melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional inilah, diharapkan kaum guru Indonesia untuk dapat berperan menuntun muridnya untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan aspek-aspek social dan emosional agar semua murid mampu meraih keberhasilan, melaksanakan tugas sehari-hari seperti belajar, membentuk hubungan/ berinteraksi, memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dan beradaptasi dengan tuntunan pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks. Melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) juga diharapkan agar para guru dapat memberikan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan murid menjadi orang yang baik.

Tujuan dari Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk: 1). memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi; 2). menetapkan dan mencapai tujuan positif; 3). merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain; 4).  membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta; 5).membuat keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup, yaitu : 1). Rutin; 2). Terintegrasi dalam mata pelajaran; dan 3). Protokol.

Kompetensi Sosial Emosional terdiri dari 5 bagian, diantaranya: 1). Kesadaran diri - pengenalan emosi; 2). Pengelolaan diri - mengelola emosi dan focus; 3). Kesadaran sosial - keterampilan berempati; 4). Keterampilan berhubungan sosial - daya lenting (resiliensi); dan 5). Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab.


Cara mendapatkan kompetensi social emosional ini, maka guru dan murid harus memiliki kesadaran penuh terlebih dahulu sebelum pembelajaran di kelas akan dimulai. Apa itu kesadaran penuh? Kesadaran penuh (Mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness).

Agar otak kita dapat memiliki kesadaran penuh , maka guru dan murid melakukan tekhnik STOP.

Teknik STOP. STOP merupakan akronim dari: 1). Stop/ Berhenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan; 2). Take a deep Breath/ Tarik nafas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar; 3). Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan; 4). Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif.


Setelah guru dan murid melaksanakan teknik STOP, maka diharapkan dapat memunculkan kesadaran diri, dengan kesadaran diri diharapkan dapat menghargai perbedaan dan empati, serta pemahaman diri dan orang lain, sehingga mampu menghadapi tantangan dan perspektif yang berbeda-beda. Dari kesadaran diri ini pula, kita kaum guru dapat melaksanakan teknik KSE, sehingga puncak dari semua itu adalah kesejahteraan psikologis antara guru dan siswa

Pembelajaran Sosial dan Emosional ini berkaitan dengan modul 1.2 yaitu bahwa guru penggerak harus menyadari bahwa emosi mementukan bagaimana guru dapat mengambil keputusan.


Dengan pembelajaran Pembelajaran Sosial dan Emosional ini juga diharapkan dapat membentuk Budaya Positif Sekolah, dengan Menciptakan Budaya Ajar yang baik di sekolah, dalam Suasana Sekolah yang Nyaman, sesuai dengan modul 1.4.

Pembelajaran Sosial dan Emosional ini tidak bisa berdiri sendiri, karena harus dapat menampung semua karakteristik, potensi, hambatan, gaya belajar dan kebutuhan anak yang berbeda- beda, maka dari itu pembelajaran berdiferensiasi inilah yang cocok menyatu dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional. Dari pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial dan Emosional diharapkan dapat mengembangkan sikap, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi social dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.


Comments

Popular posts from this blog

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi "Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran"